Sebagian dari blog ini adalah pindahan dari blog saya yang lama di Friendster dan akubisagila.blogspot.com

Diskusi

|
Pagi menyambut Benang yang lagi tergeletak lunglai di atas lantai. Sinar surya menampar-nampar muka setiap orang di sekitarnya, menusuk mata Benang sampai terbelalak. Derap-derap kaki berdentam keras di samping rumah. Bunyi bingkai yang digedor keras-keras tangan penuh tulang dari luar sungguh memekakkan telinga.

“Hei Benang gila, ayo bangun.”

“Apaan sih,

kan

belum waktunya.” Jawab Benang.

Tanpa hirauan, harapan yang putus, dan perjalanan dengan muka murung, teman Benang pergi lunglai. Dan Benang pun turunkan mukanya kembali ke pembaringan, tak hiraukan keputusasaan dan kekecewaan alam.

Kaleng yang terbangun dari lelapnya, lalu bertanya pada Layangan kertas yang mulai berlubang di sisi-sisinya.

“Apa dan kenapa dengan semuanya?”

“Bukan satu hal yang perlu diributkan oleh kita. Lebih baik tutup mulut daripada terbakar puntung rokok sendiri.” Jawab Layangan.

“Memang lebih baik begitu. Sudah terlalu banyak sebagian kita menjilat ludah sendiri, dan gilanya lagi malah menjilat ludah orang lain.” Kaleng membenarkan.

Percakapan terlarut dalam ketimpangan-ketimpangan pikiran yang sudah jatuh makin terpuruk milik teman Benang yang juga teman Kaleng dan Layangan.

“Terlalu panas otak ini pikirkan soal yang tak kunjung henti. Tapi untuk menenangkan diri memainkan permainan lama yang usang pun tak bisa. Semuanya sudah dimakan jaman, mereka capek melawan ketimpangan dan ketidak adilan. Dan akhirnya, kini untuk bangkit dari kelelapan saja tak mampu. Pusing sudah, mau kemana kita?!!”

Tak dirasa hari yang meninggi sudah mulai padam. Pikiran-pikiran masih ada dalam benak Kaleng, Layangan, dan temannya yang juga teman Benang.

“Egois memang dunia ini. Mungkin inilah yang membuat teman kita Benang berlari dan bersembunyi dengan pikiran-pikirannya sendiri.” Celetuk Layangan mengawali.

“Mungkin benar juga apa katamu. Egoisme dunia memang membawa banyak akibat bagi mereka yang mudah putus.” Kaleng menyetujui.

“Tapi tidakkah yang diasah akan lebih kuat dan berarti bagi kehidupan?!!” Sanggah teman.

“Semua harus ada bukti. Memangnya siapa yang mengasah dia selama ini, dan apa hasilnya?” Tanya Kaleng.

“Aku yang mengasah dia setiap hari. Memang belum terlihat hasilnya, tapi….” Teman meyakinkan tapi agak pasrah.

“Itulah yang menyebabkan dia jatuh. Kau asah dia setiap hari. Dia makin lancip dan akhirnya menjerat dirinya sendiri. Aku sudah banyak melihat, mereka yang jatuh itu bukan karena mereka kalah atau kecil. Tapi kebanyakan dari mereka terlalu kuat hingga lupa akan dirinya sendiri.” Layangan menasehati dengan agak marah dan menyalahkan.

“Kau memang bodoh membiarkan Benang berdiri di atas ideologinya sendiri. Kau sebagai pemilik seharusnya membatasi dia, dan menjejali dia dengan impian-impianmu. Bukannya malah membiarkan dia berdiri di awan dengan ideologinya sendiri. Lalu sekarang dia berlari dan bersembunyi. Kau mau tanggung kesalahan dan dosanya?? Jujur saja, kalau aku tak mau!!” Kaleng menyalahkan.

“Itu semua karena cintaku yang selalu lebih untuk kalian. Dan aku tak mau bersifat munafik, kalau aku lebih besar cinta pada Benang.” Teman mencoba berkata.

Cinta membuat mereka menutup percakapan. Khususnya Kaleng dan Layangan yang sudah muak dengan kemunafikan cinta antar sesama. Trauma akan kasih sayang membuat mereka menutup mata.



‘Hari memang panjang, tapi sewaktu-waktu ia dapat putus dan menjerat.’ Itulah kata-kata terakhir Benang sebelum kejatuhannya.



‘Dalam pelarian dan persembunyian, setiap orang berdiri atas alurnya sendiri. Gerak-gerak mereka tentukan sendiri. Bahasa diciptakan, lalu dihancurkan. Manusia lalu teguh tapi akhirnya ada jatuhnya dan mati.’ Tulisan teman atas dirinya dan untuk dirinya sendiri.




‘Kita selalu memilih untuk jadi yang satu, tak tersaingi. Tapi, pikiran-pikiran selalu lain dari perkiraan. Cinta membuat kami frustasi dan terpuruk dalam waktu yang lama. Tak seorang pun tahu kita pernah berada dalam kebusukan, yang akhirnya kita dapat bangkit karena kita satu hati, bukan satu cinta.’ Ocehan dari Kaleng dan Layangan menyelesaikan diskursus tentang cinta.



‘Life ends when you stop dreaming…. Hope is lost when you stop believing…. And Love fails when you stop caring…. So keep goes on….’ Dan inilah penutup dari segala diskursus tanpa batas dari saya sebagai pengarang, Benang, Kaleng, Layangan dan teman dalam cerita bodoh ini. Kami sebagai keluarga dapat bangkit, karena kita satu hati, bukan satu cinta. Karena cinta hanya dari Tuhan datangnya, dan cinta adalah milik Tuhan kepada seluruh ciptaanNya.




17-18, 05, 2005

D.T.A (Don’t Trust Anybody)

0 comments:

Post a Comment